←18+
← Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

Episode 07 — Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

EPISODE 07
BAGIAN 7 PENGALAMAN BERHARGA Adalia Adriana Agatha Kami sekarang duduk di sebuah café. Suasananya nyaman, pengunjungnya cukup ramai — mayoritas mahasiswa. Makanannya enak, harganya pun bersahabat dengan isi dompet anak kos. Kami duduk berhadapan. Aku menikmati rokok putahanku, sementara Lia asyik menyesap lemon tea-nya. "Mas, bisa minta tolong dibersihkan mejanya ya?" panggilku seorang pelayan café. "Sama minta es teh satu, gelas jumbo ya mas. Kamu sendiri mau nambah minuman atau makanan?" tanyaku pada Lia. "Aku air mineral aja ya mas, satu botol sedang," jawabnya. "Jadi gimana ceritanya, Pur?" "Ntar, tunggu pesanan kita datang dulu baru aku cerita. Kalau cerita sekarang ntar kepotong lagi." Tidak lama, pesananku datang. Sebelum mulai bercerita, aku ambil rokok, kubakar, lalu kuisap dalam-dalam dan kubuang asapnya ke samping. "Kamu kenal Fajar kan, Ya'? Anak kota kita." "Kenal. Dia itu sahabatnya Kak Bowo kan? Emang kenapa?" "Iya. Jadi kejadiannya waktu aku kelas satu STM. Fajar kelas dua STM tapi beda sekolah denganku, Bowo kelas dua SMA." "Ntar Pur, jangan lanjut dulu. Kak Bowo kan kelas tiga waktu kita kelas satu. Kok kamu bilang kelas dua?" potong Lia. "Aku nganggur setahun ya'. Aku pernah pendidikan sebelumnya." "Pendidikan? Pendidikan apa?" Lia mengerutkan kedua alisnya. "Ini mau bahas pendidikanku atau bahas Bowo?" "Hehehehe... iya, iya, lanjut aja. Tentang pendidikanmu ntar bahas lain kali." "Hemm... jadi gini ya'. Hari itu seorang sahabatku datang ke rumah. Dia bercerita sesuatu yang bikin aku naik darah. Adiknya diperkosa Fajar, ya'. Sahabatku namanya Arif, satu kelas denganku. Adiknya namanya Eli, kelas tiga SMP." Suaraku sedikit gemetar menahan emosi saat mengingat kejadian itu. "Apa? Gila! Fajar perkosa adik temanmu? Anak kelas tiga SMP?" Lia seakan tidak percaya. "Iya. Fajar yang memperkosa. Bowo nggak ikut-ikutan sih. Jadi setelah Arif cerita, kami berdua langsung meluncur ke tempat anak-anak motor sport berkumpul. Sampai di sana ada sepuluh anak motor sport, termasuk Fajar dan Bowo. Arif yang emosi langsung turun dari motor. Dia lari ke arah Fajar, melompat sambil nendang kepala Fajar. Fajar langsung tekapar, kepalanya membentur aspal. Dia pingsan, ya'." "Bowo nggak terima temannya tekapar. Dia berdiri dan langsung menghajar Arif, dibantu tiga temannya. Sisanya lima orang lagi mau ikut membantu Bowo — kebetulan aku kenal mereka. Kubilang, siapa pun yang ikut campur, kuselesaikan hidupnya saat itu juga. Mereka takut. Akhirnya mereka berlima mundur. Aku lari ke arah Arif. Dua orang kujatuhkan. Sisa dua — Bowo dan temannya. Jadi aku duel sama Bowo, Arif sama temannya Bowo. Kubuat Bowo babak belur. Kubentak pukulan tepat di atas bibirnya, pas di hidungnya. Dia roboh sambil memegang hidungnya yang patah. Kubanting, kuinjak kepalanya, kuseret mukanya di aspal. Kubuat dia benar-benar pingsan hari itu." "Selesai kuhajar Bowo, kulihat Fajar sudah sadar. Kutemui dia. Kuinjak rahangnya — dia roboh lagi. Kutarik lagi, kusandarkan ke motornya. Kucengkeram rambutnya, kupukul mukanya — bukan sekali, tapi berkali-kali sampai mukanya penuh darah. Aku nggak tahu giginya patah berapa, pokoknya kupukul terus. Yang terbayang di kepalaku cuma wajah Eli yang tidak berdosa, menangis memohon dilepaskan supaya tidak diperkosa Fajar. Aku kesetanan, ya'. Nggak ada yang berani menahanku. Kuseret Fajar di aspal, kuinjak-injak dia... sampai adikku datang bersama pacarku yang dulu. Mereka berdua memelukku dan menahanku supaya berhenti. Aku baru berhenti pas adikku teriak dan menangis." "Aku ditarik masuk ke mobil pacarku. Di dalam sudah ada Arif yang duduk memegang kepalanya yang berdarah. Kami berempat langsung pulang." "Masalahnya selesai di situ? Nggak. Dua hari aku nggak masuk sekolah, soalnya lumayan bonyok. Hari ketiga aku masuk. Arif belum masuk — kata temanku, kepalanya dijahit, tulang tangan kanannya bergeser, disuruh dokter istirahat dua minggu." "Hari itu juga, waktu pulang sekolah, ada mobil menungguku di depan sekolah. Aku yakin, ini orang-orang yang mau balas dendam. Aku dipanggil. Aku nggak takut — mau kuhajar sekalian. Ada empat orang, badan besar-besar dan bertato. Tiba-tiba satu orang dari belakang menodongku pakai pisau. Aku kaget. Kesempatan itu dipakai temannya untuk memukulku pakai balok. Aku roboh. Aku dikeroyok... di depan sekolahku. Anak kelas satu STM dikeroyok preman. Gila nggak? Nggak ada yang berani bantu. Aku diseret ke mobil dan dibawa ke pelabuhan." "Sampai di pelabuhan, kumasukkan ke gudang. Ternyata di sana sudah ada Bowo — kepala dan hidungnya diperban. Di sana juga ada bapaknya Bowo, Pak Gunawan, beserta anak buahnya. Ada juga bapaknya Fajar, Haji Mamat — preman Pasar Lama. Fajarnya nggak ada, mungkin masih dirawat. Haji Mamat juga bawa anak buah." ("Aku 'ya Tuhan, jangan ambil aku sekarang... aku belum siap...") (Tiba-tiba ada yang menyahut, "Lah, kamu siapa? Berani benar memerintah Tuhan. Waktu kamu senang kamu lupa sama Tuhan, giliran sekarat gini baru ingat Tuhan. Bedebah!") ("Aku ini makhluk ciptaan Tuhan juga. Masa aku tidak boleh memohon pada Penciptaku?") ("Ya, lihat aja nanti, dibantu nggak kamu sama Tuhan.") ("Ayo lah, bantu aku memohon pada Tuhan supaya menolongku...") ("Woooiii bedebah, nggak usah banyak ngomong! Jangan bawa-bawa aku! Aku ini cuman penonton. Cukup kamu berdoa sendiri, sisanya biar Tuhan yang memutuskan.") ("Kalau kamu nggak mau bantu anak muda ini, pergi sana! Bikin aku capek ngetik aja. Masih banyak yang harus kuketik di cerita ini, nanti hilang lagi inspirasiku!") ("Bedebah kau, Kisanak!") "Tiga orang itu berjalan mendekat ke arahku. Setelah dekat, barulah aku bisa melihat wajahnya dengan jelas. Ternyata... ayahku. Datang bersama sopirnya, Tarjo, dan satu lagi, Mat Ali — anak buah kesayangan ayahku." ("Terima kasih Tuhan... maafkan aku barusan berpikiran jelek kepada-Mu.") "Kulihat ayahku santai saja melihat kondisi anak laki-lakinya terkapar. Biasanya orang tua panik melihat anaknya terluka. Dan aku ini bukan cuma terluka — bonyok, babak belur, sekarat. Tapi ayahku santai saja, sambil membakar rokok Surya kesukaannya. Ayahku tersenyum ke arahku." #Pak Gunawan: "Haloo, Pak Irawan... apa kabar? Waduh, tumben kesini. Wah, maaf ya, aku lagi ada pesta kecil. Mau kasih pelajaran anak muda ini. Dia sudah bikin Bowo anakku bonyok. Hidungnya patah, jidatnya dijahit. Itu mungkin jadi luka permanen di jidatnya." "Ayahku hanya tersenyum mendengar Pak Gunawan bicara. Tapi tatapan matanya tajam. Belum pernah kulihat tatapan ayahku setajam itu — seperti malaikat pencabut nyawa yang hendak menarik roh mangsanya." #Haji Mamat: "Halo, Bos. Ntar kita ngobrol ya, Bos. Aku mau selesaikan anak ini dulu —" (sambil menginjak kepalaku) "— anak ini kurang ajar! Anakku Fajar dibuatnya sekarat di rumah sakit. Wajah anakku penuh luka, tulang iga ada yang patah, gigi depannya patah lima, tangan kirinya juga patah —" (kakinya makin kuat menginjak kepalaku) "— bajingan! Padahal nggak ada yang berani sama anakku di kota ini. Aku nggak tahu siapa orang tua bajingan ini." "Ayahku masih santai sambil merokok. Tatapannya berpindah ke Haji Mamat. Perlahan ia membuka jasnya dan menyerahkannya ke sopirnya. Melanjutkan mengisap rokok Surya-nya yang tinggal separuh. Diam. Tidak ada satu kata pun keluar dari mulutnya. Tapi matanya menatap tajam ke Haji Mamat yang masih menginjak kepalaku." #Haji Mamat: "Bos Irawan mau gabung kah? Nggak usah repot-repot, saya bisa selesaikan sendiri bajingan satu ini. Bos di situ aja. Kalau sudah selesai, nanti kita bahas kelanjutan kerjaan kita —" (selain preman pasar, Haji Mamat bekerja sama dengan Pak Gunawan dan ayahku) #Ayahku: "Yang kamu injak itu anaknya Irawan Jati. Nama anak itu... Sandi Purnama Irawan." "Akhirnya ayahku bersuara, sambil menggulung kemeja putihnya. Kata-katanya pelan tapi tegas." #Ayahku: "Dia anak pertamaku... dan anak yang paling kusayang. Aku tidak pernah memukulnya sekalipun seumur hidupku. Marah pun aku tidak sanggup sama dia." "Mereka berdua kaget. Haji Mamat refleks mengangkat kakinya dari kepalaku." #Haji Mamat: "Ma... maaf Bos, saya nggak tau kalau ini anakmu..." #Pak Gunawan: "Maaf Pak Irawan... mohon maaf, saya juga nggak tau, Pak..." "Mereka berdua gugup, pucat, dan gemetar mendengar ayahku berbicara." #Ayahku: "Sebenarnya aku bisa kerahkan semua anak buahku untuk menyerang kesini. Tapi aku nggak mau. Aku bukan pengecut yang melibatkan orang lain untuk menyelesaikan masalahku. Desaku: kalau ada masalah, diselesaikan secara jantan — duel satu lawan satu." #Ayahku: "Tapi aku kasih pengecualian buat kalian. Mau main keroyokan, silakan. Tapi kalau ada yang berani maju duluan duel dengan saya, saya ladeni. Atau kalian mau maju barengan? Silakan." #Ayahku: "Jadi, aku kasih kesempatan kalian maju duluan. Tapi kalau nggak ada yang maju sampai rokok ini habis... aku akan maju, dan aku akan habisi kalian semua dalam ruangan ini — kecuali bocah itu." (ayahku menunjuk Bowo) "Karena dia itu urusannya sama anakku." #Ayahku: "Ali... Tarjo... tutup gudangnya. Jangan dibuka sebelum aku suruh. Dan satu lagi — kalian berdua jangan ada yang ikut dalam pestaku ini. Kalau sampai ada yang ikut, aku sendiri yang akan buang kalian ke laut." #Ali & Tarjo: "Siiiaaappp Boss!!" #Ayahku: "Jadi... nggak ada yang maju ya?" "Ayahku menatap tajam semua orang di ruangan itu. Ia membuang rokoknya yang sudah habis, lalu berjalan ke arah Haji Mamat. BUUUMMM!! Aku bahkan nggak bisa melihat gerakan tangan ayahku. Cepat dan tepat. Tiba-tiba Haji Mamat sudah roboh di lantai, bersimbah darah. Anak buah Pak Gunawan dan Haji Mamat maju semua menyerang ayahku. BUUMM!! PAAKK!! BUUMM!! BUGGHH!! Mereka tumbang satu per satu. Setiap pukulan dan tendangan ayahku pasti mengenai satu korban — pasti roboh, pasti berdarah. BUUMM!! PAAKK!! BUUMM!! BUGGHH!! Aku mendengar setiap pukulan dan tendangan ayahku seperti irama musik kematian yang memekakkan telinga. Baru kali itu aku melihat ayahku berkelahi. Dan itu demi aku — anak laki-laki kesayangannya yang selalu melawan kalau ditegur. Kalau aku tahu ayahku begini, pasti aku nggak berani melawan perintahnya." "Aku melihat puluhan orang tumbang, tidak ada yang bersuara. Akhirnya tinggal satu yang berdiri: Pak Gunawan. Ayahku mendekatinya. Pak Gunawan mundur perlahan, badannya gemetar. Tiba-tiba BUUGGGHH!! Sebuah tendangan balik tepat di rahang Pak Gunawan. Dia roboh ke samping, menghantam lantai, dan tidak bergerak lagi. Darah mengalir dari mulutnya. Bowo yang melihat semuanya dari awal diam tak berkutik. Badannya gemetar, wajahnya pucat... celananya basah. Dia kencing di celana. Atau jangan-jangan malah tititnya ikut jatuh ke lantai bareng air kencingnya. Ayahku mendatanginya dan menepuk pundaknya." #Ayahku: "Jadilah laki-laki sejati. Selesaikan masalahmu sendiri, tanpa membuat masalah bagi orang lain." "Ayahku berbalik meninggalkan Bowo dan mendatangiku. Dipandanginya wajahku yang penuh darah, lalu dibelainya rambutku penuh kasih sayang. Aku meringis kesakitan. Ayah mengambil sesuatu dari kantong celananya dan mengoleskannya ke luka tikaman di perutku. Perih sekali. Lalu aku diangkatnya dengan kedua tangan — aku merasa seperti ditimang, seperti waktu aku kecil dulu." #Ayahku: "Ali, buka pintu gudangnya. Tarjo, siapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang." #Ali dan Tarjo: "Siap, Bos!" "Aku bersandar di dadanya. Wajah ayahku tetap tenang, tidak ada raut panik. Tenang, dan tatapannya berubah — dari tatapan maut tadi menjadi lembut, seolah menenangkan aku. Kulihat darahku mengotori kemeja putihnya. Sambil berjalan menuju mobil, ayahku berbisik padaku..." #Ayah: "Terakhir kali ayah menggendongmu begini... waktu kamu umur lima tahun. Kamu jatuh dari sepeda, dan lututmu terluka. Ayah menggendongmu pulang. Ibumu menangis dan memarahi ayah... katanya ayah nggak becus jaga anak. Padahal kamu cuman jatuh dari sepeda, lecet sedikit di lutut, ibumu sudah menangis dan mengamuk begitu. Ayah nggak tahu bagaimana reaksi ibumu melihat kondisimu seperti ini... bisa habis ayah diamuk ibumu. Ibumu kalau marah mengerikan. Ayah... takut." Bibir ayahku bergetar mengucapkan itu. "Tiba-tiba raut wajah ayahku berubah. Aku melihat butiran air jatuh dari mata ayahku. Ayah menangis. Belum pernah kulihat ayahku menangis. Ayahku sangat menyayangiku — walaupun aku sering melawan, beliau tidak pernah sekalipun main tangan padaku, sebesar apa pun kesalahanku. Beliau hanya menasehati." "Aku menangis, ya'. Bukan karena sakit akibat pukulan ataupun luka tikaman di perutku... tapi aku menangis karena ayahku," ucapku pada perempuan yang duduk di hadapanku. Di dalam mobil, ayahku berkata: #Ayahku: "Besok kamu berangkat ke desa. Istirahat di sana dua bulan. Ntar biar ayah yang merayu ibumu. Masalah sekolah, biar ayah yang bicara dengan kepala sekolahmu." --- Aku menunduk dan menangis. Mengingat setiap detail kejadian waktu itu. Tiba-tiba Lia berdiri dan pindah duduk di sampingku. Dipegangnya tanganku, dielusnya pelan belakang kepalaku. Dia mencoba menenangkanku. Emosiku perlahan turun. Aku menangis sesenggukan — mengingat ibuku. Beliau biasanya melakukan hal yang sama seperti yang Lia lakukan ini, setiap aku marah dan emosi. Aku menoleh ke arah Lia di sampingku. "Terima kasih ya, Ya'... aku kangen almarhum ayahku, Pur..." Tiba-tiba Lia menangis. Dia langsung memelukku. Aku kaget, lalu kubalas pelukannya. Kubelai rambut Lia, dan dia makin mengeratkan pelukannya. "Aku akan menjagamu, Ya'... aku janji," kataku pelan. Lia melepaskan pelukannya dan menatapku. Lalu tiba-tiba dia mencium pipiku, agak ke bawah — tepat di pinggir bibirku. Setelah itu dia membersihkan air mataku dengan tangannya yang lembut. Aku pun membersihkan air matanya. ("Bang...") Si Jago memanggilku. ("Diam!") ucapku kesal. ("Ya, kirain abang butuh bantuanku...") ("Tidur!") ("Iya bang, iya... Kalau butuh bantuanku, abang nggak lupakan caranya membangunkanku. Hahaha...") Jago tertawa sambil melemaskan tulang lunaknya. "Terima kasih ya, Pur..." ucap Lia sambil mengelus Si Jago— eh bukan, mengelus pipiku. Tuh kan, jadi nggak konsen akunya... ("Tuh kan! HAHAHAHA...") Jago tertawa senang. Kutepes pelan kepala Jago. Kubuat gerakan seolah membersihkan celanaku, biar Lia nggak curiga. ("ADUUHHH... ABANG JAHAAATTT!!") rengek Si Jago. "Pulang yok, dah mau maghrib ya'..." ajakku pada Lia. "Iya, ayo sudah. Aku yang bayar ya. Kemarin kan kamu yang traktir, sekarang gantian aku," ucap Lia. "Waaduhh... jadi enak aku ya'. Sering-sering ya... hehehe..." jawabku yang membuat Lia tersenyum kecut. "Ntar dulu, aku mau tanya satu hal. Jadi... jidat Kak Bowo yang bekas jahitan itu, kamu yang buat ya, Pur?" Aku cuma tersenyum mendengarnya. Lia mengerti arti senyumanku. Dia langsung berdiri dan membayar di kasir. Setelah Lia membayar, aku mengantarnya ke kos. Sampai di kosnya, kulihat banyak yang ngapel di kos itu. Penghuni kos Lia cantik-cantik semua. Pakaiannya seksi-seksi. Buah dadanya rata-rata menantang... pengen dijamah kelihatannya. Aku nggak sadar Lia sudah turun dan berdiri di sampingku, memperhatikan mataku yang melirik teman-temannya. "Mesum kamu, Pur. Mau aku panggilin mereka semua kah?" kata Lia, mengagetkanku. "Jangan, ya'! Ntar aku dipijitin di jalan lagi... bisa jadi perkedel daging aku," ucapku yang membuat Lia tersenyum. "Aku langsung balik ke kos ya, nggak singgah. Mau tidur... ngantuk..." Aku langsung turun dari motor dan memarkirkannya di dalam kos Lia. "Mau tidur, atau mau mabuk lagi?" ucap Lia sambil menatapku. "Tidurlah... tapi sebelum tidur ya, minum dikit... hehehe." "Tapi nggak mungkinlah minum. Semalam sudah mabuk parah, semua penghuni kosku—" "Kamu itu..." Lia mendorong pipiku pelan. "Terima kasih ya, Pur." "Kalau sempat nanti telpon. Kalau nggak sempat ya besok aja." "Oke ya', aku pulang dulu ya." "Hati-hati ya, Pur..." ucap Lia. "Yayang Pur... nggak singgah dulukah? Hihihi..." Tiba-tiba Mba Amel muncul di depan pintu. Aku cuma tersenyum padanya. "Kakak ini loh, masuk sana! Ganggu orang aja senengnya..." ucap Lia. "Siapa juga yang ganggu, Yayang Pur. Aku loh mau nitip salam buat Alan. Salam buat Alan ya, Yayang Pur," kata Mba Amel. Aku cuma mengacungkan jempol, berbalik, lalu berjalan menuju arah kosku. Aku mengambil sebatang rokok lalu berjalan pulang ke kos. Sebelum ke kos, aku singgah ke toko depan gang. Rupanya penjaga tokonya sudah mulai hafal kebiasaanku. "Teh kotak sama rokok Marlboro merah ya, Mas? Hehehe..." tanya penjaganya. "Iya, Mas, hehehe..." "Oh iya, aku Guntur..." dia memperkenalkan diri. "Sandi, Mas..." kusalaminya. "Kos di mana? Kok aku baru lihat beberapa hari ini?" tanyanya. "Di dalam gang, Mas. Di Pondok Merah," jawabku santai. Guntur kaget mendengar jawabanku. "Sampean kos di sana? Serius? Sampean semester berapa? Kok saya nggak pernah lihat kemarin-kemarin?" tanyanya heran. "Saya calon mahasiswa baru, Mas. Mau kuliah di kampus depan... hehehe." jawabku sambil tersenyum. "Wahhh... hebat sampean, Mas! Bisa tinggal di kos Pondok Merah. Baru calon mahasiswa tapi sudah tinggal di situ... hebat!" ucapnya kagum. "Biasa aja kali, Mas, hehehe. Aku balik dulu ya, Mas." "Yoyoy... hati-hati, Mas!" kata Guntur. --- Emery Naila Unna Aku berjalan menuju kos sambil meminum teh kotak, menyesapnya sedikit demi sedikit sampai depan kos. Kubuka pintu pelan-pelan. Di ruang tengah, semua penghuni kos berkumpul, masih memutar botol di atas meja. Cuukk... Nggak ada capeknya kah orang-orang ini? Minum terus... Semua memandang ke arahku. "Hallo San! Kangen gua sama loe! Sini duduk dekat abang ganteng..." panggil Mas Wawan. Aku menghampirinya dan duduk di sampingnya sambil meminum sisa teh kotakku. Kulihat Alan, Mas Rendi, Mba Reni, Bung Toni, dan lainnya tersenyum dan mengangguk padaku. Kenapa aku selalu senyum dan sopan? Karena memang dasarnya aku ini baik hati dan penuh kasih sayang. Assuuu... "Baru setengah hari aja Mas Wawan kangen sama aku. Lebay ah..." aku mencoba mengakrabkan diri. "Gemes deh gua sama loe, San," kata Mas Wawan sambil senyum. "San, jare nang wartel telpon. Teko awan sampe magrib ngene tas teko, wartel'e nde ibu kota ta?" (San bilang telpon di wartel. Dari siang sampai magrib kok baru datang? Wartelnya di ibu kota kah?) tanya Mas Bendu. Semua tersenyum melihat Mas Bendu bertanya. Aku cuma mengangguk sambil tersenyum. "Kelihatannya kamu haus, San. Nih, minum..." kata Mas Rendi sambil menyodorkan setengah gelas minuman padaku. "Haus apanya, Beb. Tuh lihat anak baru, minum teh kotak gitu. Kamu senang minum teh ya, anak baru? Dari kemarin kulihat setiap datang kamu pasti minum teh kotak..." tanya Mba Mery sambil mengisap rokok Mild kesukaannya. "Iya, Mba... hehehe," jawabku polos. "Makasih ya Mas Rendi, aku minum ya..." Kuangkat gelas dan kuminum isinya. Masih pahit ternyata minuman ini. ("Iyalah masih pahit! Kamu minum alcohol! Minum teh kotak aja kalau nggak mau pahit...") ("Siapa sih ini, ikutan ngomong? Kukencingin nih, biar tau rasa!") ("Biadab kau anak muda! Ada sopan santunnya sama orang tua!") "Dari mana kamu, San?" tanya Mas Rendi. "Dari kos Barbara, Mas..." Kuserahkan gelas yang telah kuhabiskan isinya. "Ha? Serius, kamu dari kos Barbara?" Alan heran. "Iya..." jawabku santai, sambil membakar rokok di tanganku. Semua penghuni kaget mendengar jawabanku. " biasa aja kali, kayak dengar kabar apa aja..." ucapku dalam hati. "Waw! Kamu hebat sekali, Bro..." Tiba-tiba Bung Toni berdiri sambil bertepuk tangan. Dan semua penghuni mengikuti — berdiri sambil bertepuk tangan. Standing ovation. Iya, standing ovation. Kecuali Mas Rendi dan Mba Mery yang cuma senyum dan geleng-geleng mendengar jawabanku tadi. "Kenapa sih mereka ini... biasa aja kali..." ucapku dalam hati. "Kamu anak baru yang penuh kejutan, San. Kamu bisa diijinkan Mas Bule masuk kos ini saja sudah bikin kami kaget. Sekarang kamu bilang dari kos-kosan Barbara. Kamu tau kos Barbara itu seperti apa? Kos itu terkenal sama cewek-cewek cantik yang kuliah di kota ini. Di situ gabung semua primadona kampus! Hebat kamu San, hebat!" kata Mas Raimond. "Sudah, duduk semua. Lanjut minumnya," kata Mas Rendi. "Hei anak baru, kamu beneran ke kosku ya tadi siang?" tanya Mba Mery. "Loh? Mba Mery kos di sana?" tanyaku kaget. "Nggak sopan! Ditanya bukannya jawab, malah balik nanya..." "Eh, maaf Mba. Iya, tadi siang saya ke sana." "Cari siapa di sana?" "Lia, Mba." "Lia siapa? Di sana ada dua Lia..." Ini orang ketiga dalam sehari yang nanya Lia yang mana. "Adalia Adriana Agatha, dari pulau seberang, Mba." "Busyet, lengkap amat nyebut namanya. Cukup kamu bilang Lia dari pulau seberang, gitu aja cukup." "Iya, Mba... hehehe." "Cantik anaknya. Lagi mekar-mekarnya tu..." ucap Mba Mery cuek. "Beh! Emang bolu kukus, Ay, lagi mekar-mekarnya..." balas Mas Rendi sambil senyum. "Hehehe..." Mba Mery cuma senyum. "Lan, ada salam dari Mba Amel..." ucapku ke Alan, mencoba cari topik lain. Aku sungkan ngobrol terus dengan Mba Mery — soalnya tatapannya penuh misteri, dan aku nggak mau sok akrab, ntar dikira gimana lagi sama Mas Rendi. "Uhukk... uhukk... Apa?!" Alan kaget sampai tersedak asap rokoknya. "Salam dari Mba Amel," jawabku santai. "Wuuuuu..." "Acik... acik..." "Cieeeeee..." "Tuitt... tuuiiitt... Alan ya..." "Onen... onen... onen... onen..." Ini yang paling aneh suaranya. Mungkin maksudnya: neon... neon... neon... suara ambulan. Langsung meriah suara dalam kos. Mereka mem-bully Alan sampai malu. Menurutku nggak terlalu seram teman-temanku yang baru ini. Semua asyik diajak ngobrol dan bercanda — tidak seseram yang dibicarakan orang selama ini. Atau mungkin belum kelihatan aja ya kalau mereka ada masalah? Biarlah. Yang penting aku nyaman di sini. "Amel iku seng biyen koen ja' rena iku ta Lan? Seng semok iku..." (Amel itu yang dulu kamu ajak kesini kah, Lan? Yang semok itu...) tanya Mas Bendu sambil tersenyum. "Iya. Sekali aja diajak kesini, itu pun sebentar. Amelnya minta pulang, kelihatannya takut," sahut Mas Akbar. "Gimana nggak takut si Amel... Bung Toni lihatnya gitu. Sudah matanya merah, ngeliatnya tajam lagi, kayak mau makan Amel..." sahut Mba Mery. "Pulangnya Amel nangis-nangis cerita ke aku. Dia trauma masuk kesini, dan nggak akan masuk kesini lagi katanya," lanjut Mba Mery. "Dorang saja yang terlalu lemah. Tra bisa lihat ketampananku..." sahut Bung Toni datar. "HAHAHAHAHA..." semua penghuni tertawa. "Kamu kenal di mana sama Amel, San?" tanya Alan heran. "Tadi waktu aku masuk ke kamar Lia, ada Mba Amel di sana, lagi main di kamar Lia," ucapku santai sambil mengisap rokok. "Apa?! Kamu diajak main ke kamar Lia?!" Mba Mery kaget. "Asuuu!!" "Bajingan!!" "Cok!!" "Kurang ajar!!" "Cukimai!!" "Ngehe!!" Semua makian diarahkan padaku — ya sambil bercanda gitu ngomongnya, soalnya setelah itu mereka tertawa bareng. Kecuali Alan, yang tersenyum kecut. "Loh, bukannya cowok boleh masuk di situ ya?" ucapku santai sambil refleks melirik Mba Mery. "Iya, memang boleh masuk... tapi yang spesial aja. Pacarnya penghuni kosan aja belum tentu boleh masuk. Itu sudah kesepakatan bersama. Kalau penghuninya sudah yakin siapa yang dibawa masuk dan dia bertanggung jawab, ya sudah, masuk aja," jawab Mba Mery santai. Lagi-lagi tanpa komando aku dijadikan sasaran bully teman-teman baruku. "Ancene nggateli arek iki! Hahaha..." kata Mas Bendu. "Lan, Mba Amel tadi pakai daster pendek di atas paha. Montok bin mulus pahanya, putih... nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata pokoknya," ucapku santai. Aku sekarang lebih rileks bercanda. "Hahaha!!" "Alan kalah start!!" "Sandi memimpin di depan!!" "Dikejar lagi oleh Alan!!" "Alan ada di depan!!" "Alan disalip lagi sama Sandi di tikungan gang depan kampus, saudara-saudaraaa!! Kita lihat sebentar lagi siapa yang masuk garis FINIIIIISS!!" "Wooooooo!!" "Alannya ndelosor, saudara-saudara!!" "Hahahahaha... Assuuuu!!" "Hahahahahaha... Jancooooook!!" Semua bersahut-sahutan mem-bully Alan. "Asu, jangkrek, jaran, kete, kebo, codot..." semua binatang keluar dari mulut Alan sambil geleng-geleng. Dia jadi objek penderitaan malam ini. Malam ini seperti tidak ada jarak di antara kami. Semua berbaur jadi satu — tidak memandang angkatan, nggak peduli orang lama atau orang baru. Aku mulai merasa nyaman dengan guyonan mereka yang ceplas-ceplos. Kulihat Mas Rendi cuma senyum, sambil terus menuangkan minuman ke gelas kecil. Kelihatannya ini botol terakhir. Syukurlah... aku sudah mulai mabuk, capek, ngantuk, mau tidur. "San, ini minum..." gelas terakhir diserahkan padaku — dan memang giliranku. Kuminum cepat, supaya cepat juga pesta malam ini berakhir. "Ini sumbangan pertama..." Alan mengeluarkan uang sepuluh ribuan tiga lembar. "Hahaha! Alan mulai panas!!" teriak Mas Wawan. "Hahahaha!!" yang lain pun tertawa. "Taekkk... taekkk... hahahaha..." Alan cuma bisa tertawa sambil mengurut jidatnya yang sebenarnya nggak gatal. "Tak kancani, Lan..." (kutemanin, Lan) sahut Mas Bendu sambil mengeluarkan uang dua puluh ribuan. Satu per satu mereka mengeluarkan uang. Yang paling banyak Mas Dannis — dia baru dapat job gambar, jadi dia meletakkan uang seratus ribu di meja. "Malam masih panjang, sodara-sodara! Torang lanjutkan pesta malam ini! Torang tidur di lantai semua! Ini semua demi sodara kita Alan!! Hahahaha..." teriak Bung Toni. "Cuukkk, aku maneh seng kene..." (cuukk, aku lagi yang kena) kata Alan sambil geleng-geleng. "Tenang, Lan, santai aja. Malam ini kamu bintangnya... tapi Sandi yang jadi galaksinya! Hahahaha..." Mas Wawan tertawa. "Memang bajingan kau anak muda... hahahaha..." kata Alan sambil menoleh ke arahku. Aku cuma tersenyum melihat Alan dan semua orang bisa tertawa lepas. Tapi yang aku pikirkan... lambungnya terbuat dari apa sih teman-temanku ini? Kok nggak ada capeknya minum? Assuuu! Kuambil uang lima puluh ribu, kuletakkan di atas meja. Terserah aja, sudah. Aku pasrah. Tidur di ruang tengah ini juga nggak apa-apa. *Cuukk... ini pengalaman berharga yang nggak akan kulupakan seumur hidupku.*
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 06
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal