←18+
← Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

Episode 08 — Perjalanan Menggapai Cita dan Cinta

EPISODE 08
BAGIAN 8 TERCAPAI SEBAGIAN KEINGINAN Seperti biasa, aku tersadar di pagi hari dengan kepala berdenyut dan kelopak mata yang terasa ditimbun batu. Semalam pesta berakhir pukul lima pagi. Hari ini hari kesebelasku di kota ini, dan hampir setiap malam aku larut dalam pesta sampai subuh—kadang bahkan tertidur dengan pakaian lengkap termasuk sepatunya. Gila. Malas rasanya untuk bangun. Pengennya tidur seharian saja. "Hei anak baru... bangun. Hari ini kan tes ujian masuk kampusmu. Ayo bangun, udah jam tujuh nih..." Suara itu samar-samar masuk ke telingaku. Suara yang sudah tidak asing lagi. Ternyata dia ada di dalam kamarku—kausebabkan aku memang tidak pernah mengunci pintu kalau tidur. "WOIII... bangun! Kayak kebo aja kalau tidur. Setengah jam lagi ujianmu dimulai, bangun! WOIII... anak baru... BANGUUNN... busyet dah..." "S A N D I I I I... KALAU SAMPE KAMU GA BANGUN DALAM HITUNGAN KE TIGA, KUHABISKAN TEH KOTAKMU! SATUUU... DUUUAAAA... TIIIII..." Aku langsung bangun kaget. Bukan karena teriakan Mbak Mery—tapi karena ancamannya mau menghabiskan teh kotakku. Gila. Kenapa ya, perempuan-perempuan yang kukenal di kota ini sadis-sadis semua? Aku duduk menatapnya. Astaga. Dia duduk di depanku sambil menyandar ke dinding, menyeruput sisa teh kotakku yang tersisa satu-satunya. CUUKKK... kenapa dia setega itu sama aku? Kenapa dia minum satu-satunya sumber kehidupanku di meja itu? Dosa besar apa yang pernah kuperbuat kepadanya? Di wajahnya tidak ada satu pun bayangan belas kasihan. Tanpa rasa bersalah sedikitpun, dia menyeruput tehku sedikit demi sedikit, menikmati momen cairan itu meluncur membasahi tenggorokannya—sambil menatapku yang baru bangun dengan muka fresh. Aku jengkel sekali. Bukan karena tidak mampu beli teh kotak lagi. Tapi, asuuu... sudahlah. Sakitnya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata pagi ini. ("Bedebah. Lebay banget kamu jadi manusia.") (#aku "Enak aja kamu ngomong. Coba kamu di posisiku. Kukasih perumpamaan: seandainya kamu makan nasi pakai ayam goreng. Kamu makan dagingnya duluan bareng nasinya, lalu kulitnya kamu pinggirkan buat dimakan terakhir—soalnya kamu paling suka kulit ayam. Nah, pas nasi sama dagingnya habis, tinggallah kulit itu. Momen ternikmat dalam hidupmu. Kamu angkat kulitnya, arahkan ke mulut... tiba-tiba datang manusia tanpa rasa bersalah, nyamber, dan menghabiskannya. Sakit nggak? Pasti sakit. Sakit tapi nggak berdarah.") ("Perumpamaanmu nggak nyambung sama topik, oon. Bedebah.") (#aku "Assuuuu...") "Mbak Mery... kenapa diminum teh kotakku? Tinggal itu doang loh, Mbak..." pemelas-ku. "Habis kamu telat bangun. Salah sendiri." Jawabnya enteng, tanpa setetes pun penyesalan. "Bang... teh kotak aja yang dia urus, tapi aku nggak dia perhatiin..." Samar-samar kudengar jago bicara. Dia sudah terbangun lebih dulu, berdiri tegak, menatap tajam ke arah Mbak Mery yang duduk di depanku—menembus celah sempit resleting celanaku yang turun sedikit. "Liat betina di depanmu, bang. Dia duduk ngangkang. Celana pendeknya yang longgar keangkat sampai tepi lobang betinanya, bang. Heeeemmm..." Jago menggelinjat di balik sempak yang tak mampu menutup ujung kepalanya yang besar. Sempak ini memang tak pernah sanggup menahan besarnya jago kalau sudah bangun seperti ini. Kurasakan air liurnya mulai menetes—tanda dia sudah tak kuat lagi menahan muntahan yang sudah lama kubendung. "Bang, liat tanktopnya yang putih itu. Keliatan nggak sanggup nahan buah dadanya. Liat putingnya yang nyembul dan mengeras, bang. Dia nggak pake bra, bang. ASSUUUU..." "Ayolah bang... turutin permintaanku kali ini. Bebaskan aku. Abang nggak kasihan sama Upin-Ipin di bawahku ini kah? Dia sudah lama nggak kerja. Cuman tidur doang. Cairan di sekelilingnya mulai mengeras, bang. Sebentar lagi pasti membatu. Itu akan menyiksanya, membunuhnya pelan-pelan. Kalau itu terjadi, buat apa aku hidup? Ayolah bang, aku capek merayumu dari kemarin. Turutin aku kali ini..." Jago benar-benar memelas. Dia sudah menjatuhkan egonya sampai dasar laut terdalam, merendahkan seluruh harga dirinya di hadapanku. Upin-Ipin: "Betul... betul... betul..." Aku tersadar dan menelan ludah. Bener juga kata jago. Mbak Mery benar-benar menggoda pagi ini. "Makanya percaya sama aku, bang! Jangan jadi laki-laki pengecut! Kenapa sih kamu sembunyi di belakang kata 'gak enak'? Kalau gak enak, kasih aja ke jago. Biar jago yang tuntaskan. Abang cukup duduk dan diam, sisanya biar jago yang obrak-abrik pertahanan betina itu..." "Mas Rendi mana, Mbak?" Basa-basiku. "TAI kamu, bang! Masih aja pengecut! Ngapain basa-basi? Tinggal suruh dia buka celana, terus duduk di selangkanganmu. Ntar aku bisa masuk sendiri ke dalam betina itu. Kamu cukup duduk, diam, dan nikmatin. Beres." "Ada itu di kamar..." jawabnya santai sambil memainkan sedotan di antara bibirnya. Dia menjilat sedotan teh kotak itu pelan-pelan. CUUKKK... seksi sekali. "Loh, nggak pa-pa kah Mbak main ke kamar? Aku nggak enak sama Mas Rendi, Mbak..." Ucapku, berusaha menahan gejolak nafsu di kepala dan rayuan si jago. "Assuuu... assuuu... ya Tuhan... kenapa Kau ciptakan aku terkurung di dalam celana laki-laki pengecut..." Jago mulai putus asa. "Santai aja. Tadi Mas Rendi yang nyuruh aku ke sini buat bangunin kamu. Takutnya kamu kesiangan ikut tesnya. Ayo cepat bangun, terus mandi. Setengah jam lagi ujiannya dimulai..." Mbak Mery menatapku dengan sayu. "Tuh kan, bang! Nunggu apa lagi? Kode itu, bang! KODE! Cepat bangun. Tarik dia biar berdiri. Balikin badannya. Turunin celananya, terus angket sedikit bongkahan pantatnya... biar kutembus dari belakang belahan betinanya. Kita quick sex aja, bang. Cukup dua puluh menit kita bersenang-senang, sisanya sepuluh menit mandi terus ke kampus. Ayolah bang! Cepat sudah! Lambat kali kau!" Aku berdiri. Berjalan pelan ke arah Mbak Mery. Berhenti tepat di depannya—posisinya duduk sejajar dengan jago. Aku tahu pasti dia melihat cetakan jago yang membesar di balik cela­naku. Dan kurasakan jago mengeras sekeras-kerasnya. Dari atas, kulihat buah dadanya yang besar seakan berontak ingin keluar dari tanktop putihnya. Jago: "Mantap, bang! Ini yang kusuka darimu. Kamu memang laki-laki sejati. Ayo sudah, apa lagi yang kamu tunggu? Berdirikan dia, bang! WOI... Upin-Ipin, kasih semangat abang kita!" Upin-Ipin: "Pesta... pesta... pesta..." Aku menarik napas pelan... lalu menghembusknya perlahan. Kuambil perlengkapan mandiku di atas lemari—tepat di sebelah tempat Mbak Mery duduk. Lalu aku berjalan pelan keluar menuju pintu. "HAHAHAHA... ternyata memang bener kata Lia sama Amel. Kalau kamu itu... M E S U M! HAHAHAHAHA..." Mbak Mery tertawa keras sambil memegang perut sampai dia terlaku terkapar. Aku sempat melirik—bongkahan buah dadanya bergoyang-goyang, nyaris lolos dari tanktop putihnya. Assuuu... CUUKKK... dia mengejekku. Kurang ajar Lia dan Mbak Amel ini. Membocorkan kelakuanku sama Mbak Mery. Tunggu pembalasanku, ya. "TAIK KAMU, BANG! TAIKKK! LAKI-LAKI PENGECUT KAMU, BANG! PENGECUUTTT..." Jago berteriak meluapkan seluruh emosinya. "HAHAHAHA... jangan lama-lama di kamar mandinya ya, anak baru. Kalau udah keluar, jangan lupa disiram yang bersih. Aku takut kalau sampai nggak bersih, malam-malam ada yang teriak... PAPA... PAPA... KENAPA KAU BUANG DIRIKU DI KAMAR MANDI... APA SALAH DAN DOSAKU... HAHAHAHAHA..." Mbak Mery terus mengejek. Aku malu. CUUKKK... aku memang sange, tapi nggak berani melakukannya sekarang. Kuleus pelan jago ke balik celana. "Kita selesaikan di kamar mandi ya..." ucapku pada jago. "TIDAAAK! CUKUP KAU SIKSA AKU DI DALAM SEMPITNYA CELANAMU, BANG! JANGAN KAU TAMBAH LAGI SIKSAAN TANGANMU! JANGAN, BANG! AKU MOHON! TANGANMU KASAR SAMA AKU, BANG! DIA SUKA MENCEKIK LEHERKU! AMPUUUNN... AMPUUN BANGG..." Jago ketakutan dan memohon pada­ku. "Baiklah. Kita mandi aja, terus ke kampus. Aku masih ada urusan." Ucapku sambil mengelusnya pelan. "HIKSS... HIKSS... HIKS..." Jago diam. Hanya menangis. Dia tidak berani menghina, tidak protes lagi. TOK... TOK... "Anak baru... jangan lupa ya... yang bersih nyiramnya... hahaha..." Mbak Mery tertawa lagi. "Oh iya, sebelum kamu berangkat—aku udah siapin teh hangat di mejamu. Da-da, anak baru yang mesum! HAHAHAHA." "Iya, Mbak. Terima kasih ya tehnya..." sahutku dari dalam kamar mandi. CUUKKK... kenapa aku selalu digoda dengan hadirnya wanita yang selalu menindas harga diri jago? "Bukan harga diriku, bang. Tapi sikap pengecutmu yang selalu takut memulai kenikmatan duniawi. Kamu terlalu lemah. Nyesal aku dilahirkan bareng laki-laki yang nggak tanggung jawab sama 'kemaluannya'. Kamu itu assuuu banget, bang!" "Kamu meremehkan aku sekali lagi... kuselesaikan kamu." "Taik kamu itu, bang. Taik. Beraninya main sabun aja." Karena rangsangan Mbak Mery tadi, aku jadi nafsu sekali. Harus kutuntaskan segera—biar tes masuk nanti aku bisa konsentrasi. "Bang... kamu cuma main-main kan sama aku? Nggak serius kan, bang?" Kuambil sabun dan kuelus batang jago sampai tepat di kepalanya. Berirama, naik-turun dua-dua. "Bangsat kamu, bang! Taik! Kamu siksa aku, bang! Jahat! Jangan dicekik leherku, bang... ampuuunn..." "Cukup, bang... cukuuuppp... hiks... hikss... hiks..." Croott... crott... crott... Ahhh... lega. Akhirnya, setelah sekian lama... keluar juga. Kulihat jago mengecil di bawah sana. Dia berubah jadi imut-imut—tidak segarang waktu bangun tidur tadi. "Bangsat kamu, bang..." suara jago yang terkulai lemah. "Bobo ya, jago. Jangan berisik lagi ya..." kuelus pelan. Kusiram sisa benih-benih tadi dengan cepat dan bersih. Aku tidak mau mereka mengenali wajahku. Ada rasa penyesalan di lubuk hatiku yang terdalam. "Nyesal ndasmu..." suara jago terdengar lirih. "Maafkan papah ya, nak..." Aku segera mandi. Setelah mandi, aku masuk kamar dan melihat segelas teh hangat di mejaku. Kuminum tehnya dan langsung berpakaian—aku tidak mau terlambat. Segera aku berangkat ke kampus. Kulihat Mbak Mery tidak ada di luar; mungkin sedang enak-enakan di kamar sama Mas Rendi. Kubakar rokokku dan melangkah menuju kampus. Tes ujian masuk berlangsung dua hari. Dan selama di kampus, aku selalu bareng Lia—karena nomor pendaftarannya di atas nomorku. Beberapa hari setelah tes, kami dipanggil ke kampus untuk melihat pengumuman. Kalau diterima, kami langsung diminta masuk ke aula untuk pengumuman persiapan ospek. Banyak sekali maba yang diterima. Mungkin betul juga kata Alan—tes ini cuma akal-akalan kampus biar dapat tambahan dari uang pendaftaran. Tapi terserahlah. Yang penting, sekarang aku sudah diterima. Aku resmi jadi mahasiswa. Tinggal menunggu seremonialnya saat ospek nanti. CUUKKK... mahasiswa. Aku sekarang mahasiswa. Tercapai sudah sebagian keinginan orang tua...
BERSAMBUNG…
Episode baru tayang tiap hari pukul 07:30 — bookmark halaman ini biar gak ketinggalan.
← Ep. 07
📢 Join channel Telegram @cerbung69 — notifikasi update episode tiap hari
Konten 18+. Cerita fiksi — semua tokoh dewasa. Dilarang menyalin atau menyebarkan ulang.
Tema
Ukuran huruf
18px
Jenis huruf
Jarak baris
1.9
↺ Kembalikan pengaturan awal